Jumat, 27 Maret 2026

10 Mins Practice

 Today is a good day, my mood also good in this state. Working from home almost everyday does not makes me feels good everyday, ofc. But I’m grateful I am able to spend my time at home, because I don’t really like to commute and being in the crowd, you know what I mean, right?

Anyway, this morning, I start my day with a glass of water and doing some home chores before doing my work at 9 am. It is just a routine for me. Well, yesterday, I was read an article regarding the power of exercise in 10mins writing. So I am gonna make mine today, and here you go. Starting to think what I am gonna write in 10 mins with 10 mins time to think about it. LOL. I am using timer so i can measure how long the text will be.

In the 5 mins, I start thinking to write about conversation via texting with strangers. But when I check my timer, the time go slow. And I play a song to wait for another 5 mins while I’m thinking what will I write here for 10 mins practice. Accidently, the songs ended same as the timer. HAHA.

Well, this thoughts has no main focus. Because in 10 mins, I think it’s a short time to make a writing cohesive and coherent at the same time. And in 10 mins I’ve distracted by others. HAHAH

Well, this is my 10 mins thoughts. Will try my best in the next practice.

----------------------------------------------->

Link to my medium post: here

Rabu, 30 November 2022

Sebuah catatan kecil

      Aku tak mengenal kata siang dan sore. Hanya pagi dan malam-lah yang mengisi hariku. Dua buah suku kata yang selalu menggema di telingaku. "Selamat pagi, Ai.." atau "Selamat malam, Ai." Selalu saja. Lalu kau mungkin bertanya bagaimana dengan dua lainnya?- entahlah, aku menghabiskan seluruh waktuku disebuah SMA yang terletak di kota nan permai ini. Setiap pagi berangkat ke sekolah lalu les ke sebuah lembaga kursus paling beken di kota ku dan pulang di malam hari. Tak mengenal siang maupun sore. Itu sudah menjadi santapan bagiku tiap harinya.
       Dimulai dari sebuah sekolah elite, sampai dengan sebuah bimbingan belajar serta berbagai les musik. Setiap hari, tanpa batas waktu. Aku menginginkan sebuah garis batas. Aku ingin menjalani hariku seperti gadis normal lainnya. Sepulang sekolah menghabiskan waktu dengan hang-out bersama teman. Sepulang sekolah melakukan kegiatan atau bahkan, kencan dengan sang kekasih, sang pangeran.. aku mengidamkan hal itu. Tak pernah sekalipun aku merasakan hal tersebut.
      Setidaknya beri aku sebuah kesempatan untuk merasakan sebuah kesenangan itu, sekalii saja..

Monday, March 2nd 2015
#hanya sebuah cerita#

Selasa, 26 Mei 2015

SIAPAKAH AKU? SIAPAKAH ANDA?

SIAPAKAH AKU?
Pernahkah Anda bertanya pada diri Anda sebuah pertanyaan yang sederhana, yaitu “Siapakah Aku?”. Sebuah pertanyaan yang bersangkutan dengan jati diri. Seringkali kita menjawab “aku adalah seorang manusia, lahir ke dunia ini berkat orang tua-ku, dan bla bla bla.  Tentu saja pertanyaan ini membuat anda, dan pastinya juga saya, mau tidak mau harus tahu dengan jati diri kita sebagai manusia, bukan? Tetapi apakah dengan menjawab seperti tadi, kita sudah mendapatkan jati diri kita? Tidak, tentu saja belum. Karena itu, dalam paper ini saya akan memaparkan sedikit pengetahuan saya tentang pertanyaan “siapakah aku” ini, dengan tujuan salah satunya adalah untuk memenuhi tugas Pelajaran Agama Katolik. Selain itu, saya ingin berbagi pengalaman melalui tulisan ini.
Dulu, sewaktu masih kecil saya ditanyai oleh seorang ibu “kamu siapa?” dengan polosnya saya menjawab “saya anaknya Pak  Benni  dan Ibu  Asna”. Jawaban itu sudah mengarah kepada jati diri kita, walaupun jawaban yang sangat sederhana, karena sebagai anak kecil apalagi yang bisa saya jawab? Tetapi, setelah saya mulai beranjak dewasa, pertanyaan itu seakan-akan mulai memasuki dunia saya kembali. Apa boleh buat, saya sebagai seorang gadis remaja tentu saja mau tidak mau harus berusaha mencari siapa jati diri saya sendiri. Dengan begitu, saya akan tahu mengapa saya dilahirkan ke dunia ini, dan apa misi saya di dunia ini sebagai seorang manusia, sebagai makhluk sosial dan sebagai makhluk ciptaan Tuhan.
Tentu saja jika saya hanya sekedar menjawab saya seorang makhluk sosial, makhluk yang se-citra dengan Allah (dalam Kitab Suci) belum merupakan akhir dari pertanyaan “Siapakah Aku?”. Dari jawaban yang secuil tersebut masih ada banyak pertanyaan yang lain lagi, misalnya “jika kamu seorang makhluk yang secitra dengan Allah, berarti kamu seorang Katolik yang berpedoman kepada Kitab Suci, jadi apa misi mu di dunia yang fana ini?” bagaimana dengan pertanyaan ini? Sesuai dengan iman saya sebagai seorang Katolik dan pengetahuan yang saya punya, saya mungkin hanya bisa menjawab misi saya di dunia ini adalah sebagai nabi, imam, dan raja. Nabi untuk mewartakan kabar gembira, sebagai imam untuk membantu umat manusia untuk memperoleh rahmat Allah, serta raja untuk melayani. Lain halnya dengan sebagai makhluk sosial. Saya sebagai makhluk sosial tentu saja tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain.
Semua pemaparan diatas masih sangat sederhana, maksudnya semua pemaparan diatas itu adalah jati diri sebagai manusia. Karena berkaitan dengan keyakinan, dan sebagai makhluk yang bergantung dengan makhluk lainnya. Tetapi itu sudah sebuah menjadi sebuah rujukan untuk mencari jati diri “Aku” yang sebenarnya. Lain halnya dengan seorang filosofis/filsuf, dia mungkin akan mengatakan aku adalah tubuhku. Tubuh adalah materi. Aku adalah otakku, panca inderaku, kakiku, tanganku. Pokoknya semua tubuh ini adalah kesatuan yang membentuk ‘aku’. Para filsuf dapat mendefinisikan ‘aku’ dalam berbagai Teori. Ada teori materialism ekstrem, teori identitas, teori Idealisme, teori aspek ganda, dan masih banyak lagi.
Jadi, pada dasarnya semua orang berusaha untuk menemukan jati dirinya dengan pelbagai cara. Sehingga dengan demikian, mengertilah orang itu. Mengapa dia dilahirkan ke dunia ini, dan tentunya untuk menjalankan misinya hidup di dunia ini. Dan tentunya anda juga masih dalam tahap pencarian jati diri Anda, bukan? Siapakah Anda?


 Ditulis: 10 April 2015

Fade and Gone

Fade and Gone
Pemeran :
Cantike Flowery as Shella
Haadii Muttaqi as Sebastian (Shella’s Brother)
Yoga Sakti Pratama as Jonathan
Nadia Aini Hafizh as Renata


Shella menatap pria yang terbaring lemah dilantai, pria itu seperti ingin mengatakan sesuatu, sesuatu yang mungkin sangat rahasia dan penting untuk shella ketahui. Ia terus menatap sebuah laci yang tertutup rapat, dan hendak menunjuk sesuatu dalam laci itu pada Shella. Namun, nyawa nya hanya sebatas itu, darah terus mengalir dari ulu hatinya. Ia bahkan tak sempat mengucapkan sepatah kata pun pada Shella, adiknya. Ia hanya member salam perpisahan berupa air mata yang mengalir dari matanya. 28 Februari 2012, tepat pada hari ulang tahunnya yang ke-16, ia meninggal. Sebastian telah meninggalkan adiknya dalam keadaan yang sangat memprihatinkan. Frustasi.. mengalami stress berat.
Shella menatap tangannya yang berlumuran darah, ia memberikan senyum sinis kepada Sebastian yang ada di hadapannya. Ia hanya tertawa, merasa tak bersalah telah membunuh kakaknya yang sangat mencintainya. Shella tertawa lagi, kali ini dengan sangat getir.
Shella : ini bukan salahku.! Kau hanya lupa bernafas dan sekarang telah mati. Ha ha ha (tertawa dengan sangat lemah dan mengambil pisau yang ada didepannya. Ia kembali menusuk perut Sebastian yang telah kehabisan darah. Shella seperti orang yang sakaw. Ia tidak puas hanya dengan menusuknya dengan sekali tusukan. )
Shella : kau telah membunuh mereka! Kenapa baru sekarang memberitahuku? Hah? Kau pikir dirimu siapa? Apa kau akan kembali suci hanya dengan menceritakan hal itu padaku? Kau telah membunuh mereka, dan sekarang giliran ku untuk membuatmu merasakan hal yang sama seperti yang kau lakukan pada mereka!! (Shella mengangkat tinggi pisaunya dan kembali menusukkan pisau untuk yang terakhir kalinya. )
Shella tertawa bahagia, namun setelahnya ia menangisi Sebastian yang penuh dengan noda darah.
                                                                  ~~oOo~~
Terdengar suara ketukan pintu yang membuat Shella berhenti menangisi Sebastian yang telah mati. Ia langsung bangkit berdiri dan tanpa berpikir panjang langsung menyeret mayat Sebastian kedalam sebuah lemari yang kosong dan menyimpannya di dalam sana.
Shella langsung mengelap noda-noda darah yang menghiasi lantai. Dan menyimpan pisau yang tergelatak di lantai ke dalam sebuah laci meja.
“sempurna”  batin Shella dalam hati sambil menyunggingkan senyum sinisnya kembali, ia berlari menghampiri seseorang yang berada di luar yang sedari tadi menunggu seseorang untuk membukakan pintu untuknya.
Shella : “Jo, a-ada apa kau datang kesini?” (Shella panic, tetapi ia tetap mempertahankan ekspresi datar untuk menyambut Jo seperti biasa)
Jonathan : “aku hanya ingin menemuimu saja. Shella, apa kau baru saja menangis? Apa yang terjadi?” (dia menghambur masuk ke dalam rumah dan mendapati beberapa kaca pecah di atas lantai.)
Jo menyergitkan dahinya sambil menatapku seolah-olah sedang menebak pikiranku. Bertanya-tanya apa gerangan yang telah terjadi? Sampai-sampai aku harus terpaksa tersenyum untuk mengurangi rasa kekhawatirannya.
Shella : “ tidak terjadi apapun Jo, hanya sedikit pertengkaran dengan seseorang”
Jonathan : ” Ada apa denganmu? Siapa yang tengah berusaha menyakiti gadisku? Siapa orang itu? Apa dia sudah pergi?” jo menatapku lekat-lekat, mencari sebuah jawaban yang tercermin dalam mataku.
Aku cepat-cepat mengalihkan pandanganku ke arah lain,
Shella : Aku membunuhnya Jo.. Dia berbohong padaku. Jadi, aku membunuhnya dengan cara yang mungkin kau sendiri tak bisa membayangkannya.
Jonathan : “ siapa yang kau maksud sayang? Siapa yang membohongimu? (Jo meletakkan kedua tangannnya dia atas bahuku. Menatapku dengan curiga. Dia pasti telah curiga padaku.
Shella : “ Aku membunuh kakakku sendiri. Sebastian telah mati!” jawab Shella hampir tak mengeluarkan suara. Suaranya serak karna teriakannya yang begitu keras tadinya.)
Jo terdiam, terhenyak dan terduduk di lantai. Dia hanya diam tak bersuara , tak menanggapiku lagi.
Jonathan : “ kenapa kau membunuhnya Shella?” tanyanya dengan dingin. “Apa yang telah ia tutupi darimu? Kenapa kau membunuhnya??? (Jo berteriak pada Shella yang berdiri mematung didepan Jo)
Shella : “Aku juga tidak tahu kenapa aku harus membunuhnya, Jo. I-itu terjadi begitu saja, tanpa ada perencanaanku sebelumnya.” (Shella mengingat kembali  betapa mengerikan tindakan yang telah  ia lakukan tadi )
Shella menutupi wajahnya dengan kedua tangannya yang lembut. Jo bangkit berdiri dan menanyakan kembali kenapa ia membunuh kakaknya sendiri.
Jonantha : “dia sangat menyayangimu dan apa kau sudah gila ?? apa yang terjadi denganmu Shella? (Jo mudur beberapa langkah, mencari keseimbangan untuk berdiri dengan benar.)
Shella : “ Dulu, ia mengatakan kalau orang tua kami meninggal karna kecelakaan, tetapi dia mengakuinya bahwa ia membunuh mereka. Jika kau jadi aku, kau pasti juga akan sangat marahkan, Jo??”
Jonanthan : “ tapi, apa kau tahu apa alasannya? Kenapa ia berbohong padamu?”
Shella berjalan mendekati Jo, dan Jo semakin berjalan mundur.
Shella : “dia tidak mengatakannya, dan aku yang mendengar hal itu langsung saja membunuhnya. Dan itu telah terjadi, jadi apa yang harus kulakukan? haa?”(Shella berjalan menuju sebuah lemari dan membukanya)
Jo semakin bingung dengan apa yang telah terjadi pada Shella, kekasihnya yang selama ini berwatak lembut dan ceria. Kini telah berubah menjadi wanita yang ganas dan sedikit mulai gila. Jo mengalihkan pandangannya ke lemari yang sekarang telah menganga dan menampakkan isinya. Sebastian, sahabat karibnya, kini telah tertidur lemah dalam lemari tua yang kuno itu. Dia berlumuran darah, beberapa lubang di bajunya menandakan bahwa ia terkena tusukan beberapa kali.
Shella : “ha ha ha . . melihat ekspesimu yang seperti itu membuatku sangat jengkel terhadapmu Jo.. Kau hanya mengkhawatirkan Bastian, bukan aku. “
Shella membuka laci tempat ia menyimpan senjatanya. Didalamnya juga terdapat sebuah pistol. Tanpa berpikir panjang, Shella melampiaskan kekesalannya dengan mengarahkan pistol tersebut ke arah Jonathan, kekasihnya sendiri. Saat Jo akan menoleh padanya, Shella menutup matanya dan menarik pelatuk pistol yang ada ditangannya. Jo hanya sempat memberikan senyum manisnya dan berkata “Aku mencintaimu, Shella”  sebuah kalimat yang belum pernah Shella  dengar dari Jo, sekarang terucap begitu fasih, dan terdengar begitu cepat.  Shella hanya bisa menangisi Jo. 
                                                                      ~~oOo~~
Shella mengusap  air matanya, pistol yang digunakannya untuk menembak Jo terjatuh ke lantai. Pikirannya menerawang, jauh entah kemana.  Dia masih belum sadar akan apa yang telah ia lakukan.
“mereka telah mati, menghilang, dan lenyap. Orang orang yang kusayang, mereka telah pergi meninggalkan ku” shella tertawa,miris. Tawa yang mengundang air mata untuk mengalir lagi dipipinya yang halus dan lembut.
Tangannya bergetar, tak tahu laggi apa yang harus dilakukannya. “seseorang muncul dalam kehidupanku, lalu mereka pergi meninggalkan ku, seorang diri. Makhul macam apa mereka?? Haah? Kalian ini sebenarnya apa? Meninggalkan diriku yang bodoh tanpa mengatakan sepatah katapun.. apa lagi yang harus aku lakukan untukmu Jo?” Shella beralih menatap Jo yang tergeletak dan bersimbah darah yang keluar dari kepala. Dia merangkak mendkati Jo.
“apa yang harus kulakukan? Kenapa kau hanya membela Sebastian atas apa yang telah ia lakukan terhadap orangtuaku?? Haah?? Jawab aku,Bodoh!! Sayang, tolong jawab aku,” Shella memeluk Jo.
Shella menunjuk Sebastian, yang meringkuk dalam sebuah lemari kecil. “Dan kau, apa yang telah kau pikirkan saat membunuh orang tua kita? Lalu apa yang kau inginkan, Jawab!! Tolong Jawab siapa saja antara kalian berdua. Tidakkah kalian punya mulut untuk bicara? Tolong jawab aku. Apa kalian pikir aku berbicara pada tembok? Jawaaaab, bodoh!!
Shella masih menangis, dan mengambil  kotak music yang sedari tadi terbuka dan mengalunkan melodinya.
“Sebuah melodi perpisahan yang bagus Jo, dari mana kau dapat ide ini?” Shella menyunggingkan senyum nya. Senyum yang tulus untuk orang yang sangat ia sayangi. Lalu tertawa lagi dan lagi.
                                                                            ~~oOo~~
Seseorang membuka gerendel pintu, terdengar suara tapak kaki yang semakin lama semakin mendekat kearah Shella. Shella gemetar dan panic. Ia hendak keluar, tetapi sesosok lelaki berjanggut telah berdiri dihadapannya. Seorang yang tak pernah ia kenal.
“k-kau si-apa?? Apa yang kau lakukan disini? Apa maumu?” Shella gemetar, ia menodong pistol ke wajah pria tersebut. “pergi! Jangan ganggu aku!”
“apa kau Shella?” Tanya pria itu dengan lembut. “tenang, aku tahu apa yang terjadi. Aku mengenal ibumu. Dia sahabatku. “
“lalu mau apa kau kemari? Apa kau ada hubungannya dengan kematian ibuku? Haah?” masih dengan posisi menodong pistol, dan menggenggam kotak music yang masih mengeluarkan melodinya.

“Apa kau ingin cerita yang sebenarnya? Kronologis kematian ibumu? Dan ayahmu?”  Shella mulai melunak, rasa penasarannya semakin tinggi.
“saat kau dilahirkan, kau lahir tidak sempurna. Maksudku, kau tidak bisa melihat.” Dia mulai sedih.
“apa maksudmu? Aku dilahirkan buta? Lalu kenapa aku sendiri tidak mengetahui hal itu?” Shella naik pitam.
“tunggu dulu, Shella. Sewaktu umurmu 2 tahun, ibumu tidak tega melihatmu yang sama sekali belum mengenal ibu dan keluargamu. Jadi ibumu ingin mendonorkan matanya untukmu, dan waktu itu yang mengoperasi kalian adalah ayahmu sendiri.” Dia menarik nafas, tak sabar ingin memberitahukan cerita selanjutnya, ia memperbaiki posisi duduknya. “saat itu ayahmu sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelematkan kalian, tapi apa daya, hanya kau yang berhasil diselamatkan dalam operasi itu.”
Shella meneteskan air mata. “lalu ibuku? Kemana ? apa ia perg?”
“ibumu meninggal dunia, dan sejak saat itu, ayahmu menggunakan obat-obat terlarang. Dia sangat frustasi ketika kehilangan ibumu, jadi dia mencoba menenangkan diri dengan menjadi seorang drug user. Sedangkan kakakmu, Sebastian, dia berumur 9 tahun.”
“lalu saat ayahmu kehilangan kendali, ia mencoba membunuhmu dengan tangannya sendiri. Dia sakaw. Jadi untuk melindungimu, Sebastian memukulkan botol pecah kepunggung ayahmu hingga dia tewas. “
“Sebenarnya kau ini siapa? Menceritakan lelucon yang sudah basi itu kepadaku? Apa untungnya bagiku? Toh, mereka semua sudah meninggal dan meninggalkan aku. “ Shella tertawa sinis kepada pria tersebut. tapi, pria itu dengan tenang mengatakan.
“kau mungkin tidak mengenalku, tetapi aku sangat mengenalmu dan keluargamu. Aku adalah pria yang dicampakkan oleh ibumu demi ayahmu.” Dia mulai meneteskan air matanya.
“Aku sama tersiksanya dengan dirimu sekarang ini, Shella. Tapi aku tidak bertindak bodoh sama sepertimu, kau egois, dan tidak memedulikan kakakmu, terlebih kekasihmu yang telah mati itu. Kau sama bodohnya dengan ibumu, mencampakkan semua yang paling berharga demi sesuatu yang tolol. Itu sangat menjijikkan, kau tahu?”  Shella menangis, ia mengambil mengarahkan pisto yang sedari tadi ia genggam.  Pria itu juga mengambil pistol dari dalam sakunya, dan langsung menarik pelatuknya kearah Shella. Mereka berdua sama-sama menarik pelatuk pada waktu yang sama. Shella terjatuh dengan kepala bersimbah darah, tangannya terkulai lemas. Kotak music yang ia genggam terbuka kembali dan mengalunkan alunan music yang menyedihkan.

Semua pergi, menghilang, dan lenyap seketika, hanya karena sebuah kesalahpahaman.
          17 Desember 2014