Fade and Gone
Pemeran :
Cantike Flowery as
Shella
Haadii Muttaqi as
Sebastian (Shella’s Brother)
Yoga Sakti Pratama as
Jonathan
Nadia Aini Hafizh as
Renata
Shella menatap pria yang terbaring lemah dilantai, pria itu
seperti ingin mengatakan sesuatu, sesuatu yang mungkin sangat rahasia dan
penting untuk shella ketahui. Ia terus menatap sebuah laci yang tertutup rapat,
dan hendak menunjuk sesuatu dalam laci itu pada Shella. Namun, nyawa nya hanya
sebatas itu, darah terus mengalir dari ulu hatinya. Ia bahkan tak sempat
mengucapkan sepatah kata pun pada Shella, adiknya. Ia hanya member salam
perpisahan berupa air mata yang mengalir dari matanya. 28 Februari 2012, tepat
pada hari ulang tahunnya yang ke-16, ia meninggal. Sebastian telah meninggalkan
adiknya dalam keadaan yang sangat memprihatinkan. Frustasi.. mengalami stress
berat.
Shella menatap tangannya yang berlumuran darah, ia
memberikan senyum sinis kepada Sebastian yang ada di hadapannya. Ia hanya
tertawa, merasa tak bersalah telah membunuh kakaknya yang sangat mencintainya.
Shella tertawa lagi, kali ini dengan sangat getir.
Shella : ini bukan salahku.! Kau hanya lupa bernafas dan
sekarang telah mati. Ha ha ha (tertawa dengan sangat lemah dan mengambil pisau
yang ada didepannya. Ia kembali menusuk perut Sebastian yang telah kehabisan
darah. Shella seperti orang yang sakaw. Ia tidak puas hanya dengan menusuknya
dengan sekali tusukan. )
Shella : kau telah membunuh mereka! Kenapa baru sekarang
memberitahuku? Hah? Kau pikir dirimu siapa? Apa kau akan kembali suci hanya
dengan menceritakan hal itu padaku? Kau telah membunuh mereka, dan sekarang
giliran ku untuk membuatmu merasakan hal yang sama seperti yang kau lakukan
pada mereka!! (Shella mengangkat tinggi pisaunya dan kembali menusukkan pisau
untuk yang terakhir kalinya. )
Shella tertawa bahagia, namun setelahnya ia menangisi
Sebastian yang penuh dengan noda darah.
~~oOo~~
Terdengar suara ketukan pintu yang membuat Shella berhenti
menangisi Sebastian yang telah mati. Ia langsung bangkit berdiri dan tanpa
berpikir panjang langsung menyeret mayat Sebastian kedalam sebuah lemari yang
kosong dan menyimpannya di dalam sana.
Shella langsung mengelap noda-noda darah yang menghiasi
lantai. Dan menyimpan pisau yang tergelatak di lantai ke dalam sebuah laci
meja.
“sempurna” batin
Shella dalam hati sambil menyunggingkan senyum sinisnya kembali, ia berlari
menghampiri seseorang yang berada di luar yang sedari tadi menunggu seseorang
untuk membukakan pintu untuknya.
Shella : “Jo, a-ada apa kau datang kesini?” (Shella panic,
tetapi ia tetap mempertahankan ekspresi datar untuk menyambut Jo seperti biasa)
Jonathan : “aku hanya ingin menemuimu saja. Shella, apa kau
baru saja menangis? Apa yang terjadi?” (dia menghambur masuk ke dalam rumah dan
mendapati beberapa kaca pecah di atas lantai.)
Jo menyergitkan dahinya sambil menatapku seolah-olah sedang menebak
pikiranku. Bertanya-tanya apa gerangan yang telah terjadi? Sampai-sampai aku
harus terpaksa tersenyum untuk mengurangi rasa kekhawatirannya.
Shella : “ tidak terjadi apapun Jo, hanya sedikit
pertengkaran dengan seseorang”
Jonathan : ” Ada apa denganmu? Siapa yang tengah berusaha
menyakiti gadisku? Siapa orang itu? Apa dia sudah pergi?” jo menatapku
lekat-lekat, mencari sebuah jawaban yang tercermin dalam mataku.
Aku cepat-cepat mengalihkan pandanganku ke arah lain,
Shella : Aku membunuhnya Jo.. Dia berbohong padaku. Jadi,
aku membunuhnya dengan cara yang mungkin kau sendiri tak bisa membayangkannya.
Jonathan : “ siapa yang kau maksud sayang? Siapa yang
membohongimu? (Jo meletakkan kedua tangannnya dia atas bahuku. Menatapku dengan
curiga. Dia pasti telah curiga padaku.
Shella : “ Aku membunuh kakakku sendiri. Sebastian telah
mati!” jawab Shella hampir tak mengeluarkan suara. Suaranya serak karna
teriakannya yang begitu keras tadinya.)
Jo terdiam, terhenyak dan terduduk di lantai. Dia hanya diam
tak bersuara , tak menanggapiku lagi.
Jonathan : “ kenapa kau membunuhnya Shella?” tanyanya dengan
dingin. “Apa yang telah ia tutupi darimu? Kenapa kau membunuhnya??? (Jo
berteriak pada Shella yang berdiri mematung didepan Jo)
Shella : “Aku juga tidak tahu kenapa aku harus membunuhnya,
Jo. I-itu terjadi begitu saja, tanpa ada perencanaanku sebelumnya.” (Shella
mengingat kembali betapa mengerikan
tindakan yang telah ia lakukan tadi )
Shella menutupi wajahnya dengan kedua tangannya yang lembut.
Jo bangkit berdiri dan menanyakan kembali kenapa ia membunuh kakaknya sendiri.
Jonantha : “dia sangat menyayangimu dan apa kau sudah gila
?? apa yang terjadi denganmu Shella? (Jo mudur beberapa langkah, mencari
keseimbangan untuk berdiri dengan benar.)
Shella : “ Dulu, ia mengatakan kalau orang tua kami
meninggal karna kecelakaan, tetapi dia mengakuinya bahwa ia membunuh mereka.
Jika kau jadi aku, kau pasti juga akan sangat marahkan, Jo??”
Jonanthan : “ tapi, apa kau tahu apa alasannya? Kenapa ia
berbohong padamu?”
Shella berjalan mendekati Jo, dan Jo semakin berjalan
mundur.
Shella : “dia tidak mengatakannya, dan aku yang mendengar
hal itu langsung saja membunuhnya. Dan itu telah terjadi, jadi apa yang harus
kulakukan? haa?”(Shella berjalan menuju sebuah lemari dan membukanya)
Jo semakin bingung dengan apa yang telah terjadi pada
Shella, kekasihnya yang selama ini berwatak lembut dan ceria. Kini telah
berubah menjadi wanita yang ganas dan sedikit mulai gila. Jo mengalihkan
pandangannya ke lemari yang sekarang telah menganga dan menampakkan isinya.
Sebastian, sahabat karibnya, kini telah tertidur lemah dalam lemari tua yang
kuno itu. Dia berlumuran darah, beberapa lubang di bajunya menandakan bahwa ia
terkena tusukan beberapa kali.
Shella : “ha ha ha . . melihat ekspesimu yang seperti itu
membuatku sangat jengkel terhadapmu Jo.. Kau hanya mengkhawatirkan Bastian,
bukan aku. “
Shella membuka laci tempat ia menyimpan senjatanya.
Didalamnya juga terdapat sebuah pistol. Tanpa berpikir panjang, Shella
melampiaskan kekesalannya dengan mengarahkan pistol tersebut ke arah Jonathan,
kekasihnya sendiri. Saat Jo akan menoleh padanya, Shella menutup matanya dan
menarik pelatuk pistol yang ada ditangannya. Jo hanya sempat memberikan senyum
manisnya dan berkata “Aku mencintaimu, Shella”
sebuah kalimat yang belum pernah Shella
dengar dari Jo, sekarang terucap begitu fasih, dan terdengar begitu
cepat. Shella hanya bisa menangisi Jo.
~~oOo~~
Shella mengusap air
matanya, pistol yang digunakannya untuk menembak Jo terjatuh ke lantai.
Pikirannya menerawang, jauh entah kemana.
Dia masih belum sadar akan apa yang telah ia lakukan.
“mereka telah mati, menghilang, dan lenyap. Orang orang yang
kusayang, mereka telah pergi meninggalkan ku” shella tertawa,miris. Tawa yang
mengundang air mata untuk mengalir lagi dipipinya yang halus dan lembut.
Tangannya bergetar, tak tahu laggi apa yang harus
dilakukannya. “seseorang muncul dalam kehidupanku, lalu mereka pergi
meninggalkan ku, seorang diri. Makhul macam apa mereka?? Haah? Kalian ini
sebenarnya apa? Meninggalkan diriku yang bodoh tanpa mengatakan sepatah
katapun.. apa lagi yang harus aku lakukan untukmu Jo?” Shella beralih menatap
Jo yang tergeletak dan bersimbah darah yang keluar dari kepala. Dia merangkak
mendkati Jo.
“apa yang harus kulakukan? Kenapa kau hanya membela
Sebastian atas apa yang telah ia lakukan terhadap orangtuaku?? Haah?? Jawab
aku,Bodoh!! Sayang, tolong jawab aku,” Shella memeluk Jo.
Shella menunjuk Sebastian, yang meringkuk dalam sebuah
lemari kecil. “Dan kau, apa yang telah kau pikirkan saat membunuh orang tua
kita? Lalu apa yang kau inginkan, Jawab!! Tolong Jawab siapa saja antara kalian
berdua. Tidakkah kalian punya mulut untuk bicara? Tolong jawab aku. Apa kalian
pikir aku berbicara pada tembok? Jawaaaab, bodoh!!
Shella masih menangis, dan mengambil kotak music yang sedari tadi terbuka dan
mengalunkan melodinya.
“Sebuah melodi perpisahan yang bagus Jo, dari mana kau dapat
ide ini?” Shella menyunggingkan senyum nya. Senyum yang tulus untuk orang yang
sangat ia sayangi. Lalu tertawa lagi dan lagi.
~~oOo~~
Seseorang membuka gerendel pintu, terdengar suara tapak kaki
yang semakin lama semakin mendekat kearah Shella. Shella gemetar dan panic. Ia
hendak keluar, tetapi sesosok lelaki berjanggut telah berdiri dihadapannya.
Seorang yang tak pernah ia kenal.
“k-kau si-apa?? Apa yang kau lakukan disini? Apa maumu?” Shella
gemetar, ia menodong pistol ke wajah pria tersebut. “pergi! Jangan ganggu aku!”
“apa kau Shella?” Tanya pria itu dengan lembut. “tenang, aku
tahu apa yang terjadi. Aku mengenal ibumu. Dia sahabatku. “
“lalu mau apa kau kemari? Apa kau ada hubungannya dengan
kematian ibuku? Haah?” masih dengan posisi menodong pistol, dan menggenggam
kotak music yang masih mengeluarkan melodinya.
“Apa kau ingin cerita yang sebenarnya? Kronologis kematian
ibumu? Dan ayahmu?” Shella mulai
melunak, rasa penasarannya semakin tinggi.
“saat kau dilahirkan, kau lahir tidak sempurna. Maksudku,
kau tidak bisa melihat.” Dia mulai sedih.
“apa maksudmu? Aku dilahirkan buta? Lalu kenapa aku sendiri
tidak mengetahui hal itu?” Shella naik pitam.
“tunggu dulu, Shella. Sewaktu umurmu 2 tahun, ibumu tidak
tega melihatmu yang sama sekali belum mengenal ibu dan keluargamu. Jadi ibumu
ingin mendonorkan matanya untukmu, dan waktu itu yang mengoperasi kalian adalah
ayahmu sendiri.” Dia menarik nafas, tak sabar ingin memberitahukan cerita
selanjutnya, ia memperbaiki posisi duduknya. “saat itu ayahmu sudah berusaha
semaksimal mungkin untuk menyelematkan kalian, tapi apa daya, hanya kau yang
berhasil diselamatkan dalam operasi itu.”
Shella meneteskan air mata. “lalu ibuku? Kemana ? apa ia
perg?”
“ibumu meninggal dunia, dan sejak saat itu, ayahmu
menggunakan obat-obat terlarang. Dia sangat frustasi ketika kehilangan ibumu,
jadi dia mencoba menenangkan diri dengan menjadi seorang drug user. Sedangkan
kakakmu, Sebastian, dia berumur 9 tahun.”
“lalu saat ayahmu kehilangan kendali, ia mencoba membunuhmu
dengan tangannya sendiri. Dia sakaw. Jadi untuk melindungimu, Sebastian
memukulkan botol pecah kepunggung ayahmu hingga dia tewas. “
“Sebenarnya kau ini siapa? Menceritakan lelucon yang sudah
basi itu kepadaku? Apa untungnya bagiku? Toh, mereka semua sudah meninggal dan
meninggalkan aku. “ Shella tertawa sinis kepada pria tersebut. tapi, pria itu
dengan tenang mengatakan.
“kau mungkin tidak mengenalku, tetapi aku sangat mengenalmu
dan keluargamu. Aku adalah pria yang dicampakkan oleh ibumu demi ayahmu.” Dia
mulai meneteskan air matanya.
“Aku sama tersiksanya dengan dirimu sekarang ini, Shella.
Tapi aku tidak bertindak bodoh sama sepertimu, kau egois, dan tidak memedulikan
kakakmu, terlebih kekasihmu yang telah mati itu. Kau sama bodohnya dengan
ibumu, mencampakkan semua yang paling berharga demi sesuatu yang tolol. Itu
sangat menjijikkan, kau tahu?” Shella
menangis, ia mengambil mengarahkan pisto yang sedari tadi ia genggam. Pria itu juga mengambil pistol dari dalam
sakunya, dan langsung menarik pelatuknya kearah Shella. Mereka berdua sama-sama
menarik pelatuk pada waktu yang sama. Shella terjatuh dengan kepala bersimbah
darah, tangannya terkulai lemas. Kotak music yang ia genggam terbuka kembali
dan mengalunkan alunan music yang menyedihkan.
Semua pergi, menghilang, dan lenyap seketika, hanya karena
sebuah kesalahpahaman.
17 Desember 2014