Selasa, 26 Mei 2015

SIAPAKAH AKU? SIAPAKAH ANDA?

SIAPAKAH AKU?
Pernahkah Anda bertanya pada diri Anda sebuah pertanyaan yang sederhana, yaitu “Siapakah Aku?”. Sebuah pertanyaan yang bersangkutan dengan jati diri. Seringkali kita menjawab “aku adalah seorang manusia, lahir ke dunia ini berkat orang tua-ku, dan bla bla bla.  Tentu saja pertanyaan ini membuat anda, dan pastinya juga saya, mau tidak mau harus tahu dengan jati diri kita sebagai manusia, bukan? Tetapi apakah dengan menjawab seperti tadi, kita sudah mendapatkan jati diri kita? Tidak, tentu saja belum. Karena itu, dalam paper ini saya akan memaparkan sedikit pengetahuan saya tentang pertanyaan “siapakah aku” ini, dengan tujuan salah satunya adalah untuk memenuhi tugas Pelajaran Agama Katolik. Selain itu, saya ingin berbagi pengalaman melalui tulisan ini.
Dulu, sewaktu masih kecil saya ditanyai oleh seorang ibu “kamu siapa?” dengan polosnya saya menjawab “saya anaknya Pak  Benni  dan Ibu  Asna”. Jawaban itu sudah mengarah kepada jati diri kita, walaupun jawaban yang sangat sederhana, karena sebagai anak kecil apalagi yang bisa saya jawab? Tetapi, setelah saya mulai beranjak dewasa, pertanyaan itu seakan-akan mulai memasuki dunia saya kembali. Apa boleh buat, saya sebagai seorang gadis remaja tentu saja mau tidak mau harus berusaha mencari siapa jati diri saya sendiri. Dengan begitu, saya akan tahu mengapa saya dilahirkan ke dunia ini, dan apa misi saya di dunia ini sebagai seorang manusia, sebagai makhluk sosial dan sebagai makhluk ciptaan Tuhan.
Tentu saja jika saya hanya sekedar menjawab saya seorang makhluk sosial, makhluk yang se-citra dengan Allah (dalam Kitab Suci) belum merupakan akhir dari pertanyaan “Siapakah Aku?”. Dari jawaban yang secuil tersebut masih ada banyak pertanyaan yang lain lagi, misalnya “jika kamu seorang makhluk yang secitra dengan Allah, berarti kamu seorang Katolik yang berpedoman kepada Kitab Suci, jadi apa misi mu di dunia yang fana ini?” bagaimana dengan pertanyaan ini? Sesuai dengan iman saya sebagai seorang Katolik dan pengetahuan yang saya punya, saya mungkin hanya bisa menjawab misi saya di dunia ini adalah sebagai nabi, imam, dan raja. Nabi untuk mewartakan kabar gembira, sebagai imam untuk membantu umat manusia untuk memperoleh rahmat Allah, serta raja untuk melayani. Lain halnya dengan sebagai makhluk sosial. Saya sebagai makhluk sosial tentu saja tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain.
Semua pemaparan diatas masih sangat sederhana, maksudnya semua pemaparan diatas itu adalah jati diri sebagai manusia. Karena berkaitan dengan keyakinan, dan sebagai makhluk yang bergantung dengan makhluk lainnya. Tetapi itu sudah sebuah menjadi sebuah rujukan untuk mencari jati diri “Aku” yang sebenarnya. Lain halnya dengan seorang filosofis/filsuf, dia mungkin akan mengatakan aku adalah tubuhku. Tubuh adalah materi. Aku adalah otakku, panca inderaku, kakiku, tanganku. Pokoknya semua tubuh ini adalah kesatuan yang membentuk ‘aku’. Para filsuf dapat mendefinisikan ‘aku’ dalam berbagai Teori. Ada teori materialism ekstrem, teori identitas, teori Idealisme, teori aspek ganda, dan masih banyak lagi.
Jadi, pada dasarnya semua orang berusaha untuk menemukan jati dirinya dengan pelbagai cara. Sehingga dengan demikian, mengertilah orang itu. Mengapa dia dilahirkan ke dunia ini, dan tentunya untuk menjalankan misinya hidup di dunia ini. Dan tentunya anda juga masih dalam tahap pencarian jati diri Anda, bukan? Siapakah Anda?


 Ditulis: 10 April 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar