SIAPAKAH
AKU?
Pernahkah
Anda bertanya pada diri Anda sebuah pertanyaan yang sederhana, yaitu “Siapakah
Aku?”. Sebuah pertanyaan yang bersangkutan dengan jati diri. Seringkali kita
menjawab “aku adalah seorang manusia, lahir ke dunia ini berkat orang tua-ku,
dan bla bla bla. Tentu saja pertanyaan
ini membuat anda, dan pastinya juga saya, mau tidak mau harus tahu dengan jati
diri kita sebagai manusia, bukan? Tetapi apakah dengan menjawab seperti tadi,
kita sudah mendapatkan jati diri kita? Tidak, tentu saja belum. Karena itu,
dalam paper ini saya akan memaparkan sedikit pengetahuan saya tentang
pertanyaan “siapakah aku” ini, dengan tujuan salah satunya adalah untuk memenuhi
tugas Pelajaran Agama Katolik. Selain itu, saya ingin berbagi pengalaman
melalui tulisan ini.
Dulu,
sewaktu masih kecil saya ditanyai oleh seorang ibu “kamu siapa?” dengan
polosnya saya menjawab “saya anaknya Pak Benni dan Ibu Asna”. Jawaban itu sudah mengarah kepada jati
diri kita, walaupun jawaban yang sangat sederhana, karena sebagai anak kecil
apalagi yang bisa saya jawab? Tetapi, setelah saya mulai beranjak dewasa,
pertanyaan itu seakan-akan mulai memasuki dunia saya kembali. Apa boleh buat,
saya sebagai seorang gadis remaja tentu saja mau tidak mau harus berusaha mencari
siapa jati diri saya sendiri. Dengan begitu, saya akan tahu mengapa saya
dilahirkan ke dunia ini, dan apa misi saya di dunia ini sebagai seorang
manusia, sebagai makhluk sosial dan sebagai makhluk ciptaan Tuhan.
Tentu
saja jika saya hanya sekedar menjawab saya seorang makhluk sosial, makhluk yang
se-citra dengan Allah (dalam Kitab Suci) belum merupakan akhir dari pertanyaan
“Siapakah Aku?”. Dari jawaban yang secuil tersebut masih ada banyak pertanyaan
yang lain lagi, misalnya “jika kamu seorang makhluk yang secitra dengan Allah,
berarti kamu seorang Katolik yang berpedoman kepada Kitab Suci, jadi apa misi
mu di dunia yang fana ini?” bagaimana dengan pertanyaan ini? Sesuai dengan iman
saya sebagai seorang Katolik dan pengetahuan yang saya punya, saya mungkin
hanya bisa menjawab misi saya di dunia ini adalah sebagai nabi, imam, dan raja.
Nabi untuk mewartakan kabar gembira, sebagai imam untuk membantu umat manusia
untuk memperoleh rahmat Allah, serta raja untuk melayani. Lain halnya dengan
sebagai makhluk sosial. Saya sebagai makhluk sosial tentu saja tidak bisa hidup
tanpa bantuan orang lain.
Semua
pemaparan diatas masih sangat sederhana, maksudnya semua pemaparan diatas itu
adalah jati diri sebagai manusia. Karena berkaitan dengan keyakinan, dan
sebagai makhluk yang bergantung dengan makhluk lainnya. Tetapi itu sudah sebuah
menjadi sebuah rujukan untuk mencari jati diri “Aku” yang sebenarnya. Lain
halnya dengan seorang filosofis/filsuf, dia mungkin akan mengatakan aku adalah
tubuhku. Tubuh adalah materi. Aku adalah otakku, panca inderaku, kakiku,
tanganku. Pokoknya semua tubuh ini adalah kesatuan yang membentuk ‘aku’. Para
filsuf dapat mendefinisikan ‘aku’ dalam berbagai Teori. Ada teori materialism
ekstrem, teori identitas, teori Idealisme, teori aspek ganda, dan masih banyak
lagi.
Jadi,
pada dasarnya semua orang berusaha untuk menemukan jati dirinya dengan pelbagai
cara. Sehingga dengan demikian, mengertilah orang itu. Mengapa dia dilahirkan
ke dunia ini, dan tentunya untuk menjalankan misinya hidup di dunia ini. Dan
tentunya anda juga masih dalam tahap pencarian jati diri Anda, bukan? Siapakah
Anda?
Ditulis: 10 April 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar